Beberapa hari lalu, aku membeli pisang di depan gang dekat kos. Satu sisirnya murah — cuma 14 ribu rupiah. Penjualnya seorang kakek, ramah sekali, yang dari awal sudah memperlakukan aku seperti cucunya sendiri.
Aku sebenarnya nggak terlalu paham jenis-jenis pisang. Jadi ketika si bapak bertanya, “Mau cari pisang apa, dek?” aku hanya menjawab, “Yang bisa langsung dimakan, Pak.”
Beliau langsung menunjuk pisang yang sudah matang betul, kuning sempurna. Tapi aku terdiam sebentar — mungkin kelihatan jelas dari wajahku bahwa aku lagi mikir hemat. Aneh memang, tapi kadang hal kecil seperti itu kelihatan dari gestur.
Dan entah bagaimana, bapaknya seolah paham.
Beliau langsung bilang pelan,
“Kalau mau irit-irit, yang ini aja dek. Makan dari sisi yang sudah kuning dulu. Yang lain nanti nyusul matangnya.”
Aku langsung senyum. Ada rasa hangat sekaligus sedih yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti dinasehati orang tua sendiri.
Aku kemudian tanya, “Bapak jualan dari jam berapa sampai jam berapa?”
Dan jawabannya membuatku diam cukup lama.
“Jam 5 sampai jam 12 siang, dek. Fisik sudah nggak kuat, tapi ya harus tetap cari uang. Namanya juga bukan pegawai, nggak ada pensiun.”
Mungkin bapak itu memperhatikan seragamku setiap pagi — aku berangkat mengajar, masih muda, masih kuat, masih penuh rencana. Dan beliau bercerita bukan untuk mengeluh, tapi seperti ingin mengingatkan dengan cara paling halus.
Di situ rasanya aku benar-benar tertampar.
Aku yang masih keras mengeluh soal capek merantau, soal kangen rumah, soal kerjaan yang masih harus belajar ulang dari awal… ternyata masih sangat beruntung.
Yang lebih menampar lagi: omongan tentang “nggak ada pensiun”.
Sebagai PPPK, itu real banget.
Dan rasanya seperti Allah sedang menegur lewat seseorang yang bahkan baru pertama kali aku temui.
Sejak obrolan itu, aku makin sadar bahwa aku harus lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih rajin menabung. Hidup memang keras, tapi banyak orang yang jauh lebih kuat menghadapi kerasnya dibanding kita.
Sepertinya aku akan sering beli dari bapak itu.
Dekat dari kos, murah, pisangnya enak, dan — yang terpenting — hatinya baik.
Kadang kita nggak cuma beli pisang, tapi juga beli nasihat hidup.
Sehat selalu ya, Pak.
Jangan bosan menasehati saya.
Belum ada tanggapan untuk "Belajar Dari Pisang 14 Ribu"
Post a Comment