les privat SMP SMA mtk ipa fisika kimia biologi tes/kuliah PPG prajabatan tes PPPK 082257518802

Mencari Pasangan: Antara Harapan, Pengalaman, dan Rencana yang Terus Berubah

Sejak diterima sebagai PPPK, ada satu perasaan yang tiba-tiba muncul:

seperti ada “tahap hidup baru” yang akhirnya terbuka.
Aku merasa lebih mapan, lebih tenang melihat masa depan, dan otomatis… terpikir tentang menikah.

Di titik itulah aku mulai bertanya pada diri sendiri:
“Aku ini sebenarnya mencari perempuan seperti apa?”

Tentu jawabannya tidak muncul begitu saja.
Aku belajar dari pengalaman.


Belajar dari Masa SMP dan SMA

Waktu SMP, aku pernah berada dalam cinta segitiga — disukai dua cewek dalam satu kelas. Kedengarannya keren ya?
Padahal kenyataannya, itu menghancurkan pertemanan.
Dari situ aku belajar,
“Jangan cari perempuan yang satu sekolah atau satu lingkungan kerja deh. Lebih banyak ribetnya.”

Lanjut SMA, aku pernah dekat dengan cewek yang ekstrovert, cerewet, bawel — tapi ternyata… seru juga.
Dari situ aku sadar,
aku butuh pasangan yang rame, cerita terus, tapi tetap dalam batas normal.
Yang bisa mengisi ruang heningku, bukan yang membuat kewalahan.


Pertimbangan Suku: Jawa atau Bukan?

Karena aku asli Jawa Timur, naluriku ingin mencari pasangan yang sama-sama Jawa.
Alasannya simpel:
biar tidak terlalu banyak adaptasi.

Tapi pikiran itu berubah setelah melihat pengalaman kerja temanku, Ustad Ubai.
Aku lihat sendiri bagaimana ribetnya ketika ia dan istrinya — sama-sama perantau — menjalani masa kehamilan, melahirkan, hingga mengurus bayi, tanpa keluarga dekat yang bisa membantu.

Melihat itu, aku mulai mikir ulang:
“Mungkin lebih realistis kalau cari orang Samarinda saja…
tapi yang masih ada keturunan Jawa, biar nyambung juga.”

Hehehe, kompromi paling aman.


Soal Jujuran: Ternyata Sama Aja

Awalnya aku takut dengan budaya “jujuran” di Banjar. Takut mahal.
Tapi setelah ngobrol dengan banyak orang Samarinda, ternyata konsepnya sama saja dengan “uang terop” atau “uang acara” di Jawa.

Range-nya juga mirip:
mulai dari 10 juta sampai 50 juta — tergantung keluarga dan acara.

Dan lucunya, meskipun itu keluarga Jawa, karena sudah lama di Samarinda, mereka ikut budaya Banjar dan tetap memakai istilah jujuran.
Budaya memang cair, bisa berbaur tanpa harus kehilangan identitas.


Stereotipe vs Realita

Aku pernah dengar stereotipe bahwa perempuan Banjar itu malas, kurang rajin mengurus rumah, dan cenderung anti-patriarki.
Sementara laki-laki Jawa cenderung patriarki tingkat dewa…
Wkwkwk agak nyenggol sih, tapi memang sering disebut begitu.

Tapi jujur saja, semakin aku dewasa, semakin aku yakin:

Semua itu kembali ke orangnya masing-masing.
Bukan ke sukunya.

Suku tidak menentukan karakter.
Yang menentukan adalah lingkungan, pola pikir, cara dididik, dan kemauan berkembang.

Bikin Bumble di Samarinda, Tapi…

Awal datang ke Samarinda, aku coba main Bumble.
Niatnya jelas: cari perempuan lokal yang mungkin cocok.

Tapi semakin kesini, aku merasa…
kebanyakan yang kutemui di Bumble itu tidak setara secara cara berpikir ataupun kualitas hidup.

Aku merasa lebih selektif.
Lebih mempertimbangkan bibit–bebet–bobot.
Aku pengennya yang setara—setidaknya sesama PPPK, ASN, atau BUMN, karena menurutku itu sudah menggambarkan pola pikir, etos kerja, dan kestabilan hidup.

Akhirnya aku tidak lagi terlalu semangat main Bumble.
Bukan karena merasa lebih tinggi, tapi karena makin sadar standar dan kebutuhan hidupku.

Dan kurasa itu normal.
Semua orang berhak memilih pasangan yang setara secara visi dan perjalanan hidup.

Jujur: Aku Tak Suka Hal yang Ribet

Kalau ada satu sifatku yang dominan…
aku ini orang yang tidak suka hal ribet — apalagi merepotkan orang.

Ironisnya, cari jodoh itu termasuk proses paling ribet di dunia.

Makanya, jujur saja, aku berharap banget dibantu oleh:

Aku lebih nyaman dicarikan seseorang daripada harus “berburu sendiri”.
Rasanya lebih aman, lebih terarah, dan lebih minim drama.

Bukan karena tidak mampu usaha…
tapi karena bagiku, hubungan yang baik itu dimulai dari proses yang simpel, bukan yang bikin stres.


Rencana Itu Dinamis

Walaupun aku punya “preferensi”, bukan berarti itu harga mati.

Bisa saja nanti aku malah dapat orang Dayak
atau orang Banjar asli
atau teman kerja sendiri
atau bahkan seseorang yang sama sekali tidak sesuai bayangan awal.

Rencana berubah itu hal biasa.
Yang penting aku punya “jalur aman” yang paling minim risiko menurut versi diriku.
Sisanya… ya pasrah pada Allah.

Karena jodoh itu bukan dicari pakai logika saja.
Ada peran takdir yang jauh lebih besar dari yang kita kira.


Pada Akhirnya… Mencari Istri Itu Seperti Mencari Rumah

Di balik semua pertimbangan tentang suku, karakter, kecocokan, bahkan pekerjaan…
ada satu hal yang sebenarnya paling inti:

Mencari istri itu seperti mencari rumah.
Mencari tempat pulang yang paling nyaman.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang kecocokan di atas kertas.
Bukan soal sama-sama Jawa, sama-sama Samarinda, atau sama-sama PPPK.

Yang terpenting adalah:
apakah kami bisa saling menjadi tempat pulang?

Masalah perbedaan?
Itu wajar.
Kata Raditya Dika:

“Menikah itu seni untuk berkompromi.”

Selama dua orang mau saling menyesuaikan diri, saling belajar, dan saling menurunkan ego…
rumah itu akan terasa hangat.

Dan mungkin, perjalanan mencari rumah hati ini memang panjang.
Tapi tidak apa-apa.
Lebih baik mencari dengan sadar daripada asal ketemu dan akhirnya tersesat di dalam rumah yang tidak pernah terasa seperti pulang.

Pada akhirnya, aku hanya ingin seseorang yang ketika aku lihat, aku tahu:
“Ah… akhirnya pulang.”

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mencari Pasangan: Antara Harapan, Pengalaman, dan Rencana yang Terus Berubah"

Post a Comment