Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke sebuah gerobak bakso dorong. Awalnya hanya ingin mengisi perut, tapi ternyata pulangnya saya malah membawa pulang pelajaran hidup.
Saya makan di tempat. Seperti biasa, sambil menunggu, bapaknya membuka obrolan, “Kuliah di mana, Mas?”
Saya jawab pelan, “Saya kerja, Pak.”
Dalam hati saya hanya bisa senyum. Sudah biasa dianggap masih mahasiswa—bahkan kemarin di Stadion Segiri saya dipanggil “dek” sama orang yang lewat. Wkwkwk.
Singkat cerita, setelah tahu saya guru di SMAN 3 Samarinda, bapaknya mulai bercerita tentang hidupnya. Dulu, sebelum jualan bakso, beliau pernah jadi honorer di Universitas Mulawarman. Pernah juga honorer di pemerintahan. Tapi katanya, beliau tidak kuat dengan tekanan kerja. Tidak betah. Tidak tahan.
“Sekarang saya nyesal, Mas. Andai dulu bisa bertahan, mungkin hidup saya nggak seperti ini,” ucapnya sambil tetap mengaduk kuah bakso.
Kalimat itu… rasanya seperti menampar saya pelan.
Akhir–akhir ini, saya memang merasa berat. Merantau jauh dari rumah, rindu ibu, rindu suasana rumah. Pekerjaan juga dinamis—kadang aman, kadang bikin cemas. Dan sebagai lulusan matematika yang mengajar informatika, saya harus selalu belajar dari nol lagi. Terkadang capek, terkadang kewalahan.
Tapi mendengar cerita bapak bakso itu, saya jadi tersadar:
Saya beruntung masih berada di jalur yang dulu saya impikan. Saya beruntung bisa menjalani pilihan yang saya tetapkan sendiri. Dan saya beruntung masih diberi kesempatan untuk bertahan, berkembang, dan menjadi lebih kuat.
Allah tidak pernah memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.
Mungkin akhir–akhir ini terasa berat… tapi bukan berarti saya tidak mampu.
Terima kasih, Pak, atas obrolan sederhana di pinggir jalan itu.
Terima kasih sudah mengingatkan saya untuk bersyukur.
Dan terima kasih sudah membuat saya ingin lebih kuat menghadapi hari-hari yang akan datang.
Semangat, diriku.
Kamu sudah sejauh ini. Jangan berhenti sekarang.
Belum ada tanggapan untuk "Pelajaran Hidup dari Pinggir Jalan"
Post a Comment