les privat SMP SMA mtk ipa fisika kimia biologi tes/kuliah PPG prajabatan tes PPPK 082257518802

Tentang Rumah: Pelan-Pelan Menata Masa Depan


Di sela-sela memikirkan tentang pasangan dan masa depan, aku juga mulai memikirkan hal lain yang tidak kalah penting: tempat tinggal. Mungkin karena sekarang sudah kerja tetap sebagai PPPK, muncul rasa ingin menata hidup lebih serius. Salah satunya ya soal rumah.

Beberapa waktu lalu, Pak Roni menawarkan perumahan subsidi Grand Mahakam. Jujur, awalnya aku cukup tertarik. Harganya murah, DP sekitar 10 juta, angsurannya cuma sejuta-an selama 15 tahun dan flat pula. Letaknya pun tidak jauh dari SMAN 3 Samarinda (Smaga), tempatku mengajar sekarang. Kalau dipikir-pikir, itu penawaran yang menggiurkan untuk seorang perantau baru.

Tapi kemudian muncul pilihan lain.

Bu Novi menawarkan tanah kavling di Palaran, harganya sekitar 65 juta-an, luasnya lebih besar daripada rumah subsidi. Katanya kalau masukkan SK ke bank bisa cair sampai sekitar 140 juta. Waktu dengar itu aku jadi mikir: “Menarik juga, tanah luas, bisa bangun sesuai keinginan.”

Belum sempat memutuskan, Bu Yanti datang membawa opsi baru: tanah kavling di Jalan M. Sahid ukuran 8x15 harga 90 juta. Tanahnya bukan rawa—tapi tanah gunung—jadi lebih stabil, tidak butuh biaya besar untuk timbunan. Dan yang paling penting: letaknya lebih dekat ke Smaga dibanding Palaran.

Semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa opsi tanah kavling ini lebih masuk akal. Bisa nabung dulu, tidak terburu-buru, dan nanti bangun rumah sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.

Apalagi, aku sebenarnya cukup nyaman tinggal di kos yang sekarang. Harganya 600 ribu, dekat mana-mana, dan bagi orang sepertiku yang memang betah hidup hemat, rasanya sayang kalau harus berutang puluhan tahun. Kalau pun harus berutang, aku ingin itu untuk hal produktif, misalnya modal usaha… bukan sesuatu yang membuatku terikat dan tercekik setiap bulan.

Akhirnya aku memutuskan:
aku mau nabung dulu setidaknya satu tahun untuk beli tanah, lalu satu tahun lagi untuk mulai bangun rumah.

Pelan-pelan saja.
Tidak perlu tergesa.
Yang penting langkahnya pasti.

Karena sama seperti mencari pasangan, mencari rumah juga soal perasaan “cocok”. Bukan yang paling besar, bukan yang paling murah, tapi yang paling benar menurut hati dan paling masuk akal untuk masa depan.

Dan untuk sekarang, langkah terbaik adalah menabung—menata mimpi selangkah demi selangkah. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan.
Rumah adalah tempat pulang.
Tempat membangun hidup.
Tempat satu hari nanti aku berharap ada keluarga kecil menunggu di dalamnya.

Pelan-pelan.
Aku sedang menuju ke sana.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tentang Rumah: Pelan-Pelan Menata Masa Depan"

Post a Comment